Gue pernah punya fase di mana hidup gue isinya perjalanan terus. Naik kereta antarkota, nunggu di bandara, duduk berjam-jam di bus. Dan karena merasa waktu terbuang, gue selalu bawa buku atau buka aplikasi belajar di HP. Niatnya sih mulia: belajar di sela-sela perjalanan. Kenyataan yang terjadi? Begitu sampai tujuan, gue cuma ingat judul bukunya. Isinya hilang entah ke mana.
Kalau kamu sering bepergian dan merasa waktu belajar di jalan jadi sia-sia, mungkin kamu mengalami hal yang sama seperti gue dulu. Bukan karena kamu nggak pintar atau nggak niat. Masalahnya ada di cara belajar yang keliru, dan itu sering banget nggak disadari. Ini lima kesalahan umum yang sering dilakukan orang yang belajar sambil bepergian, plus cara menghindarinya.
1. Belajar Sambil Multitasking dengan Lingkungan
Ini kesalahan paling besar dan paling sering. Kamu duduk di kursi kereta, buka buku, lalu dalam lima menit perhatianmu teralih: ada pengumuman stasiun, ada orang lewat, ada notifikasi HP, ada pemandangan menarik di jendela. Otakmu dipaksa memproses dua hal sekaligus, dan hasilnya nggak ada yang masuk.
Baca juga: Siapkan 15 Menit Sehari, Orang Tua Baru Tetap Bisa Dampingi Belajar
Riset tentang kognitif udah lama bilang bahwa otak manusia itu jelek banget dalam multitasking. Yang terjadi sebenarnya bukan multitasking, tapi task switching — pindah fokus bolak-balik. Setiap kali kamu pindah fokus, ada "biaya" yang harus dibayar, dan biaya itu adalah pemahaman yang hilang.
Cara menghindarinya: belajar di perjalanan bukan berarti harus selalu belajar. Tentukan blok waktu yang jelas, misalnya 20 menit fokus penuh, lalu berhenti. Pakai earphone peredam suara kalau perlu. Kalau situasinya memang terlalu ramai dan berisik, jangan memaksakan diri belajar materi berat. Simpan waktu itu untuk hal yang lebih ringan, atau jangan belajar sama sekali.
2. Mengandalkan Hafalan Kilat Sebelum Sampai Tujuan
Banyak dari kita belajar di jalan dengan mode "buru-buru". Besok ada ujian atau presentasi, jadi di perjalanan kita hafal mati-matian. Masalahnya, hafalan yang dilakukan dalam kondisi terburu-buru dan terdistraksi itu rapuh banget. Besoknya, begitu stres ujian datang, hafalan itu runtuh.
Hafalan tanpa pemahaman itu seperti menumpuk barang di gudang tanpa tahu isinya apa. Begitu butuh, kamu tetap nggak bisa menemukannya.
Gue pernah nyoba hafal 50 istilah teknis dalam perjalanan kereta tiga jam. Di kereta, gue merasa udah hafal semua. Tapi begitu sampai dan ditanya, yang keluar cuma lima. Sisanya lenyap. Ternyata yang gue lakukan cuma mengenali kata, bukan memahami konsepnya.
Cara menghindarinya: alih-alih menghafal, coba pahami. Bikin pertanyaan sendiri dari materi yang kamu baca, lalu jawab tanpa melihat teks. Kalau kamu bisa menjelaskan konsep itu dengan kata-katamu sendiri, baru itu tanda kamu benar-benar paham. Proses ini lebih lambat, tapi hasilnya nempel jauh lebih lama.
3. Belajar Tanpa Rencana yang Jelas
Ini yang bikin belajar di perjalanan terasa produktif padahal nggak. Kamu buka HP, buka aplikasi belajar, klik satu video, lalu lanjut scroll. Kamu merasa "udah belajar", tapi sebenarnya kamu cuma mengonsumsi konten. Nggak ada target, nggak ada arah, nggak ada evaluasi.
Orang yang sering bepergian rentan banget kena jebakan ini karena waktu belajarnya terpecah-pecah dan nggak teratur. Akibatnya, setiap sesi belajar berdiri sendiri, nggak nyambung satu sama lain, dan nggak membentuk pemahaman yang utuh.
Cara menghindarinya: sebelum berangkat, tentukan satu tujuan kecil yang spesifik. Bukan "belajar bahasa Inggris", tapi "hari ini paham cara pakai past perfect tense". Satu tujuan per perjalanan. Setelah sampai, luangkan dua menit untuk mencatat apa yang kamu dapat. Catatan kecil ini yang nanti menyambungkan sesi-sesi belajar yang terpisah-pisah.
4. Nggak Pernah Mengulang Materi
Ini kesalahan yang paling mahal. Kamu belajar di perjalanan, merasa udah paham, lalu nggak pernah menyentuh materi itu lagi. Dua minggu kemudian, materi itu hilang total dari ingatan. Kamu pun belajar ulang dari nol, dan waktu di perjalanan sebelumnya jadi sia-sia.
Padahal, kunci belajar yang efektif bukanlah belajar lama-lama sekali, tapi mengulang di interval yang tepat. Namanya spaced repetition. Otak kita dirancang untuk melupakan, dan cara melawannya adalah dengan mengingatkan diri secara berkala, bukan menumpuk materi baru terus-menerus.
Cara menghindarinya: setiap kali kamu belajar sesuatu di perjalanan, jadwalkan pengulangan. Bisa pakai aplikasi flashcard, bisa juga pakai catatan biasa dengan tanggal pengulangan. Ulangi besok, tiga hari lagi, seminggu lagi. Waktu yang kamu habiskan untuk mengulang jauh lebih sedikit daripada waktu yang kamu habiskan untuk belajar ulang dari awal.
5. Mengabaikan Kondisi Tubuh dan Waktu Belajar
Ini yang sering gue lupakan dulu. Gue belajar di perjalanan malam, badan capek, mata ngantuk, tapi tetap memaksa baca. Hasilnya? Baca satu halaman tiga kali, tetap nggak nyambung. Besoknya bangun dengan kepala penuh dan nggak ingat apa-apa.
Belajar itu kerja kognitif yang butuh energi. Kalau tubuhmu capek, otakmu nggak akan bisa bekerja optimal, mau seberapa pun niatmu. Orang yang sering bepergian paling rentan soal ini karena jadwal tidurnya berantakan dan energinya terkuras di jalan.
Cara menghindarinya: kenali jam-jam di mana kamu paling fokus, dan manfaatkan itu. Kalau kamu tipe pagi, belajar di perjalanan pagi. Kalau kamu sudah capek, jangan memaksakan belajar materi baru. Ganti dengan aktivitas ringan seperti mendengarkan ulang rekaman atau membaca catatan lama. Dan yang paling penting: tidur cukup. Nggak ada teknik belajar yang bisa mengalahkan tidur yang berkualitas.
Satu Hal yang Sering Terlupa
Belajar di perjalanan itu bukan tentang seberapa banyak waktu yang kamu curi, tapi seberapa baik kualitas waktu itu. Lebih baik 15 menit fokus penuh daripada dua jam setengah tidur sambil scroll materi. Gue sendiri akhirnya sadar bahwa perjalanan bukan tempat untuk mengejar ketertinggalan, tapi kesempatan untuk memperkuat apa yang sudah dipelajari sebelumnya.
Jadi kalau kamu sering bepergian dan merasa belajar selalu sia-sia, coba cek lagi lima hal di atas. Mungkin masalahnya bukan di waktu yang kurang, tapi di cara yang keliru. Perbaiki satu per satu, dan kamu akan lihat sendiri bedanya.